Minggu, 26 Juni 2011

Air Terjun "Helaowo Sidele Gi’a"



Air terjun Helaowo Sidele Gi’a  terletak sekitar 3 km dari ibukota di Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan. Air terjun ini merupakan aliran dari air sungai Helaowo. Konon cerita yang berkembang di masyarakat setempat, air terjun ini dijaga oleh seorang Dewi bernama Silewe Mazauwu. Silewe Mazauwu adalah dewi yang baik, namun jika ada warga yang melakukan perbuatan terlarang di lokasi tersebut misalnya menangkap ikan dengan meracuninya menggunakan tuba alamiah yang diracik dari tumbuh-tumbuhan, maka yang bersangkutan akan jatuh sakit dikarenakan sang Dewi penjaga air terjun itu marah.
Oleh karena warga setempat pada masa itu takut menangkap ikan di tempat ini, maka populasi ikan semakin besar. Hingga pada suatu petang menjelang matahari terbenam, seorang warga yang kebetulan lewat di dekat salah satu tepi lubuk air terjun itu terkejut dengan adanya suara berisik. Ia kemudian pergi menghampiri ke arah lubuk kawah air terjun tersebut. Ternyata suara berisik yang ia dengar sebelumnya berasal dari kerumunan ikan yang hidup di lubuk kawah air terjun tersebut. Dan lebih mengherankan lagi, karena sepintas ia melihat seekor dari ikan-ikan itu yang berbentuk aneh dimana tubuhnya hanya sebelah bagaikan ikan yang telah dibelah dua dari kepala hingga ke ekornya.
Sejak peristiwa itu kawah air terjun di sungai tersebut diberi nama “Helaowo Sidele Gi’a“ yang berarti kawah air terjun dimana ada ikan-ikan yang bersuara ribut. Dari hikayat tersebut, pesan dan pelajaran berharga yang dapat kita ambil yakni arti pentingnya manusia untuk melestarikan lingkungan sekitarnya.

Keangkuhan Ombak Sorake

Surga bagi para peselancar

Ketinggian ombak mencapai 15 m
Hamparan Pantai Sorake

Pulau Nias yang dikelilingi lautan luas memungkinkan daerah ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, misalnya di sektor perikanan. Demikian halnya juga di sektor pariwisata. Salah satu keunggulan Nias dibanding daerah lain di Sumatera Utara adalah keindahan panorama pantai dan lautnya yang ditambah dengan pesona ombak laut yang menjadi surganya bagi pecinta olahraga air seperti selancar (surfing) dan menyelam (diving).
Salah satu objek wisata yang terkenal di Nias adalah Pantai Sorake. Objek wisata ini terletak di Kabupaten Nias Selatan tepatnya di Desa Botohilitano, Kecamatan Teluk Dalam. Pantai dengan hamparan pasir putihnya merupakan daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Di sepanjang pantai juga tersedia bungalao bagi mereka yang ingin menginap bersama keluarga atau orang tercinta untuk menikmati pemandangan matahari terbit.
Selain itu, ombak laut Sorake sangat menantang bagi para selancar dimana merupakan tempat selancar terbaik kedua setelah Hawaii di Amerika. Ketinggian ombaknya bisa mencapai 15 meter dikarenakan lokasinya yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Di tempat ini telah berulang kali diselenggarakan perlombaan selancar tingkat internasional. Lokasi Pantai Sorake ini dapat dijangkau dengan kendaraan baik dari Bandara Binaka, maupun dari Kota Gunungsitoli.

Jejak Nenek Moyang

Megalit berbentuk patung


Kurang mendapat perhatian

Situs-situs berusia ratusan tahun sebagai peninggalan nenek moyang seperti megalit, artefak dan arca sangat banyak dijumpai di Pulau Nias. Struktur bentuk dan ukurannya yang berbeda-beda menandakan fungsinya di masa lampau. Hal ini membuktikan bahwa nenek moyang masyarakat nias memiliki akar budaya yang kuat pada masanya.
Beberapa tempat dimana kita dapat menjumpai jejak-jejak peninggalan sejarah di pulau nias antara lain :
1.  Situs Batu Megalit Saita Garamba, terletak di Desa Saita Garamba Kecamatan Gido. Disana dapat dijumpai megalit berbentuk “ni’ogadi”, “behu” serta terdapat kuburan leluhur dari tumpukan batu-batu;
2.   Situs Batu Megalit Lahemo, terdapat di Kecamatan Gido. Batu ini merupakan peninggalan keluarga leluhur “Tuada Ho” antara lain Batu Sita Gari Tuada Ho (tempat sangkutan pedang) dan batu yang diatasnya terdapat jejak kaki “Tuada Ho”;
3.  Situs Batu Megalit Maliwa’a, terletak di Desa Maliwa’a Kec. Idanogawo. Strukturnya bervariasi dimana ada yang berbentuk “ni’ogadi” dan ada ada yang berbentuk “behu”.
           Beberapa benda-benda peninggalan di atas memang terkadang masih belum mendapat perhatian yang serius baik dari pemerintah maupun masyarakat. Padahal dari beberapa situs-situs tersebut tentunya bisa mengungkap tabir masa lampau masyarakat Nias. Situs-situs peninggalan sejarah di Nias ini dapat juga menjadi pilihan objek bagi para wisatawan yang memiliki hobi di bidang fotografi.

Sang Peniru Suara

Beo Nias, Fauna Khas Nias

Sang Peniru Suara

Sang Peniru Suara, sepertinya gelar ini layak disandang oleh jenis fauna khas Pulau Nias yang satu ini. Beo Nias yang memiliki nama latin Gracula Religiosa Robusta merupakan sub spesies burung beo yang hanya terdapat di Pulau Nias. Jenis beo ini telah terkenal di nusantara karena kepandaiannya menirukan berbagai suara termasuk ucapan manusia.
Selain suaranya yang indah, ciri khas lain Beo Nias adalah memiliki  bentuk tubuh yang indah dan kekar dimana ukurannya dapat mencapai 40 cm serta mempunyai bulu berwarna hitam yang mengkilap. Beo ini juga memiliki sepasang gelambir cuping yang  menyatu, beda dengan jenis beo lain yang bercuping terpisah. Cuping telinga Beo Nias berwarna kuning mencolok, menyatu di belakang kepala yang bentuknya menggelambir ke arah leher. Bagian kepalanya berbulu pendek.
Burung Beo Nias hidup secara berpasangan atau berkelompok, bersarang dengan membuat lubang pada batang pohon yang tinggi dan tegak sampai mencapai 20 meter. Habitat burung beo umumnya hidup di hutan-hutan basah, terutama di bukit-bukit dataran rendah sampai daerah ketinggian lebih 1000 m di atas permukaan laut. Burung Beo Nias menyukai hutan yang dekat perkampungan atau tempat terbuka sebagai habitatnya.  Beo menyukai buah yang berdaging tebal dan tidak keras serta suka meminum nektar bunga. Sementara untuk memenuhi kebutuhan proteinnya, burung ini memakan serangga seperti belalang, jangkrik, capung dan telur semut. Beo Nias umumnya bertelur dua sampai tiga butir setiap musim bertelur. Di hutan, beo ini mempunyai peran sebagai pemencar biji sehingga dapat menjaga kesinambungan kehidupan pepohonan. Beo Nias umumnya dapat dijumpai di Pulau Tello, Teluk Dalam, Gomo, Lahusa dan Alasa.
Beo Nias termasuk satwa langka yang dilindungi karena populasinya yang hampir punah. Oleh karena itu,  pemerintah menetapkan Beo Nias sebagai fauna identitas Provinsi Sumatera Utara dan termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931, Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970, Undang-undang No. 5 Tahun 1990, dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Beo Nias yang unik memang menjadi ciri Nias serta citra dan identitas wilayah Sumatera Utara. Untuk itu marilah terus kita lestarikan agar kicauannya masih dapat dinikmati anak dan cucu kita.

Sabtu, 25 Juni 2011

Diklat Prajabatan Gol. III

Sedang bertindak sebagai penerima apel...

Peserta Diklat Prajabatan Gol III dalam sikap sempurna...

Diklat Prajabatan Golongan III sebagai alat seleksi terakhir bagi CPNS agar dapat diangkat menjadi PNS, untuk pertama kalinya diselenggarakan di wilayah Kabupaten Nias dimana pada tahun-tahun sebelumnya selalu dilaksanakan di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Penyelenggaraan diklat ini merupakan salah satu terobosan BKD Kabupaten Nias sebagai unit kerja terkait dalam meningkatkan pelayanan yang optimal di bidang kepegawaian sesuai motto-nya “ kebanggaan BKD terletak pada kepuasan Pegawai Negeri Sipil atas pelayanan yang diberikan “.
Pelaksanaan diklat ini bertempat di Gedung Gereja GNKP Indonesia Denninger Gunungsitoli mulai tanggal 08 s/d 28 Juni 2011, yang secara resmi dibuka oleh plh. Bupati Nias, Marthinus Lase, SH (Selasa,07/06/2011). Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan dari Kantor Regional VI BKN Medan yang diantaranya memfasilitasi penyediaan materi serta tenaga pengajar (widyaiswara).
Sasaran yang diharapkan dari pelaksanaan diklat ini antara lain adanya perubahan pola pikir dan sikap aparatur sehingga mampu menjadi agen pembawa perubahan di dalam paradigma birokrasi yang akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Pergeseran mindset dan sikap ini diharapkan kearah penerapan konsep Good Governance dan E- Governance dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kamis, 23 Juni 2011

Tari " MAENA "

Kegembiraan dan Kebersamaan dalam sebuah tarian

Jika Bali terkenal dengan tari pendet dan kecak-nya, maka Nias juga memiliki keanekaragaman kesenian tari yang tidak kalah dengan pulau dewata tersebut. Beberapa kesenian tari yang ada di Nias diantaranya Tari Moyo, Tari Baluse atau Tari Perang, Tari Hiwo, Tari Wofadogo Omo dan masih banyak lagi.
Selain beberapa jenis tarian di atas, Tari Maena juga merupakan salah satu kekayaan budaya yang terdapat di Pulau Nias. Tarian ini mengandung makna kegembiraan, kemeriahan dan kebersamaan yang dikemas dalam gerak tarian yang sederhana dan mudah ditirukan oleh siapa saja. Setiap gerakan dari tari ini diiringi dengan lantunan pantun-pantun maena (Fanutunõ Maena) yang dibawakan oleh seorang/ dua orang wanita cantik yang disebut sebagai Sanutunõ Maena, dimana selanjutnya pantun-pantun tersebut kemudian disuarakan oleh orang yang mengikuti tarian ini yang disebut Sanehe Maena/Ono Maena.
Tari Maena biasanya disuguhkan pada setiap acara perkawinan (Fangowalu), pesta (Falõwa/Owasa/Folau Õri) yang diikuti oleh banyak orang dengan harapan agar budaya ini tetap lestari meskipun dibawah himpitan budaya asing. Budaya ini kiranya juga dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya sebagai sebuah identitas jati diri Ono Niha (sebutan untuk orang nias).

Mbombo Aukhu ( Mata Air Hangat )


          Objek wisata yang satu ini mungkin merupakan satu-satunya yang terdapat di dunia dengan segala keunikan yang dimilikinya. Terletak di kawasan yang masih asri dengan dihiasi pepohonan rindang, menawarkan suasana sejuk dan tentram bagi siapa saja yang berkunjung ke tempat ini. Mbombo Aukhu merupakan salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika berwisata ke Pulau Nias.
          Mbombo Aukhu merupakan sumber mata air yang memiliki keunikan dimana mata airnya tidak pernah kering dan terus mengalir dari perut bumi meskipun terjadi kemarau panjang. Selain itu, airnya yang bersifat hangat serta mengandung belerang ternyata dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Di tempat ini juga, wisatawan dimanjakan dengan fasilitas kolam renang serta saung atau pondok-pondok kecil yang sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu liburannya bersama keluarga tercinta. Selain itu, bagi yang senang berwisata kuliner, tempat ini juga menyediakan beberapa menu makanan unik yang tentunya dapat memanjakan lidah dengan cita rasanya.
          Objek wisata yang terletak di Desa Oladanö, Kecamatan Idanögaŵo ini sangatlah mudah dijangkau karena jaraknya yang hanya 40 km dari Kota Gunungsitoli atau 20 km dari Bandar Udara Binaka. Untuk sampai di tempat ini, wisatawan dapat menggunakan jasa beberapa agen perjalanan wisata yang biasanya setia menunggu di Gunungsitoli ataupun Bandara Udara Binaka.